Mahasiswa
Revolusi Riset Maritim: Integrasi Kecerdasan Buatan Mudahkan Akademisi Cari Rujukan Valid
Jakarta (31/03) – Tantangan terbesar dalam digitalisasi sektor kelautan bukan lagi soal kekurangan data, melainkan bagaimana membedakan informasi yang valid dengan yang tidak. Menjawab masalah ini, Andika Pangestu, mahasiswa Sistem Informasi Kelautan UPI yang menjabat sebagai Sekretaris Umum HIMITEKINDO berhasil mengintegrasikan Perplexity dan N8N ke dalam sebuah sistem kecerdasan buatan yang dirancang khusus untuk membedah literatur maritim.
Inovasi ini menjadi angin segar, baik bagi kalangan akademisi yang membutuhkan rujukan jurnal yang presisi, maupun bagi para pelaku industri kelautan yang memerlukan dasar ilmiah dalam mengambil keputusan strategis.
Banyak AI generatif saat ini cenderung "mengarang" referensi jurnal jika tidak menemukan jawaban. Namun, sistem yang dibangun Andika bekerja dengan logika yang berbeda. Dengan memanfaatkan modul thinking pada N8N, sistem ini diprogram untuk tidak memberikan jawaban sebelum berhasil melakukan cross-check melalui API Perplexity.
"Target saya adalah menciptakan asisten digital yang jujur. Jika data ilmiahnya tidak ditemukan, sistem akan memberi tahu, bukan malah berhalusinasi. Ini krusial bagi akademisi yang mementingkan orisinalitas dan kebenaran sumber," jelas Andika.
Bagi akademisi, alat ini memangkas waktu pencarian literatur hingga berkali-kali lipat. Sistem secara otomatis menyisir artikel ilmiah terbaru dan menyajikannya dalam format yang siap digunakan untuk tinjauan pustaka.
Di sisi lain, bagi pelaku sektor kelautan seperti pengelola perikanan atau konsultan maritim teknologi ini berfungsi sebagai alat pendukung keputusan (Decision Support System). Misalnya, saat mereka butuh data mengenai pola migrasi ikan atau dampak perubahan suhu air laut, sistem akan menyajikan analisis yang berbasis pada studi ilmiah terkini, bukan sekadar informasi umum dari internet.
Keunggulan riset Andika terletak pada kemampuannya mengabungkan Retrieval Augmented Generation (RAG) dengan alur kerja otomatis. Dengan dukungan Supabase dan Pinecone, setiap artikel ilmiah yang ditemukan akan diproses dan disimpan secara sistematis, sehingga menciptakan "perpustakaan digital pintar" yang terus berkembang.
Inovasi ini membuktikan bahwa teknologi AI di tangan mahasiswa Indonesia mampu melampaui sekadar fungsi chatting, melainkan menjadi instrumen riset yang tangguh untuk memajukan potensi kelautan nasional.
Komentar 0
Silakan login untuk memberikan komentar